Berita

Warga Menduga Ada Pungli di Hutan Pesugulan TNGR

Warga Menduga Ada Pungli di Hutan Pesugulan TNGR
#SaberPungli #StopPungli #IndonesiaBersihPungli #BangSaber #SaberMan

LOMBOKita – Warga Jurang Koak Desa Bebidas Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur menduga ada pungutan liar yang dilakukan oknum tidak bertanggungjawab di lokasi lahan hutan Pesugulan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), dengan nilai berkisar puluhan ribu sampai ratusan ribu rupiah.

“Ada dugaan pungli yang dilakukan oknum kepada warga di lahan milik TNGR yang saat ini masih berpolemik dengan warga Jurang Koak yang berada dibawah pejuang tanah adat,” kata Usman Wijaya, salah satu warga Jurang Koak kepada wartawan di kantor Bupati Lotim, Senin (7/10/2019).

Ia menjelaskan oknum yang melakukan penarikan sejumlah uang dari warga yang berada di lokasi kawasan hutan TNGR tersebut.Dengan berbagai alasan salah satunya untuk biaya perjuangan dari pejuang tanah adat untuk mempertahankan tanah adat.

Begitu juga pada saat ada tokoh pejuang tanah adat yang berurusan dengan hukum, dengan warga yang sudah diberikan menggarap di kawasan hutan tersebut, ditarik uang ratusan ribu rupiah. Dengan alasan untuk membantu perjuangan tokoh pejuang tanah adat yang sedang berhadap dengan hukum.

“Selain itu setiap musim panen warta ditarik upeti juga oleh oknum tersebut, bahkan pada waktu tertentu disuruh mengeluarkan uang sebesar Rp 30.000 per orang, terutama mereka yang sudah diberikan menggarap lahan di lokasi hutan TNGR, karena kalau tidak maka akan dikeluarkan dari kawasan hutan, “tuturnya.

“Kalau teman-teman media tidak percaya silakan turun dan tanya ke warga langsung masalah dugaan adanya pungli di kawasan hutan pesugulan TNGR tersebut,”pinta Usman Wijaya.

Lebih lanjut Usman Wijaya juga menuturkan pada saat awal-awal warga masuk ke kawasan hutan tersebut, penah dirinya disuruh untuk melakukan penebangan kayu di kawasan hutan pesugulan TNGR yang sampai saat ini masih berkonflik.

Oleh oknum pejuang tanah adat, dengan akan diberikan upah sebesar Rp 350 perkebik kayu snokling, akan tapi dalam kenyataan justru tidak ada, melainkan dicarikan masalah. Dirinya dituduh melakukan pencurian kayu di hutan.

Tidak itu saja, orang tuanya juga dikeluarkan dari lokasi kawasan hutan tersebut dengan dicabut lahan yang telah diberikan oknum pejuang tanah adat untuk menggarap seluas 10 are. Padahal orang tuanya memijam di bank rontok untuk membayar upeti ke oknum tersebut.

” Saya orang yang selalu membangkang kalau disuruh mengeluarkan upeti kepada oknum tersebut, dengan menolak sehingga orang tua menjadi korban harus dikeluarkan dari dalam kawasan hutan yang diklaim tanah adat tersebut,” tukas Wijaya.

” Kalau memang ingin menyelesaikan masalah harusnya duduk bersama,jangan anak-anak dan perempuan dijadikan alat, sedangkan oknum yang menyuruh masuk ke kawasan hutan tersebut malah tidak muncul, begitu juga kalau memang itu tanah adat kenapa warga yang lain disuruh keluar,” ujarnya lagi penuh tanda tanya.

Ditempat terpisah Kepala Desa Bebidas, Harmain mengatakan memang pihaknya mendapatkan laporan mengenai ada dugaan pungli di kawasan hutan pesugulan TNGR tersebut, dengan dilakukan oknum yang tidak bertanggungjawab.

” Kami pemerintah desa menerima laporan seperti ini, sehingga meminta kepada warga yang dirugikan untuk melapor ke pihak berwajib,” tegasnya.

Hal yang sama dikatakan Camat Wanasaba, Sahabuddin mengatakan pihaknya memang mendengar seperti itu. ” Silahkan saja warga melapor kalau memang ada yang dirugikan dan keberatan adanya pungutan tersebut,” tandasnya.

Sumber : lombokita.com

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel