Berita

Pungli, Mantan Kabid Dispursif KBB Dituntut 1,5 Tahun Penjara

Pungli, Mantan Kabid Dispursif KBB Dituntut 1,5 Tahun Penjara
#SaberPungli #StopPungli #IndonesiaBersihPungli #BangSaber #SaberMan

INILAH, Bandung – Mantan Kabid Kearsipan dan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursif) KBB Tatang Sudrajat dituntut hukuman penjara selama satu tahun dan enam bulan, denda Rp50 juta, subsidair kurungan tiga bulan.

Tatang dinyatakan bersalah oleh JPU Kejari Bale Bandung sebagaimana dakwaan kedua, yakni pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHPidana.

Pamud Tipikor PN Bandung Yuniar membenarkan tuntutan terhadap terdakwa Tatang Sudrajat telah dibacakan. Dalam tuntutannya, dia dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana korupsi yakni melakukan pungutan liar bagi calon pelamar pegawai kontrak di KBB.

“Menjatuhkan pidana penjara terhadap Terdakwa selama 1 (satu) tahun dan 6 (enam) bulan dikurangi selama terdakwa berada dalam penahanan sementara dengan perintah terdakwa ditahan, denda Rp50 juta, subsidair kurungan tiga bulan.” kata Yuniar mengutip amar tuntutan JPU, di Pengadilan Tipikor Bandung, Selasa (4/8/2020).

Baca juga:  Waduh! Pungli Dana PIP SMA di Kabupaten Bandung, Diduga Ada Oknum Parpol Terlibat

Seperti diketahui, dalam dakwaannya JPU Slamet menyebutkan terdakwa Tatang Sudrajat bersama-sama dengan Iwan Bakti Setiawan alias Bekti (penuntutan terpisah) baik yang melakukan atau turut serta melakukan perbuatan melawan hukum atau menyalahgunakan kekuasaannya memaksa seseorang memberikan sesuatu.

“Yakni menerima uang sejumlah Rp25 juta dari pelamar tenaga kerja kontrak di Kabupaten Bandung Barat,” katanya.

Padahal perekrutan tenaga kerja kontrak di lingkungan Kabupaten Bandung Barat hanya berdasarkan kebutuhan program kegiaatan di masing-masing SKPD dan dalam prosesnya tidak dipungut biaya sama sekali.

Slamet menjelaskan, kejadian itu terungkap berawal saat saksi Bayu Kencana Wijaya pada 10 Desember 2019 diantar saksi Roni akan pergi ke Pemkab Bandung Barat untuk melamar sebagai tenaga kerja kontrak. Di jalan bertemu dengan Iwan Subekti alias Bekti, dan mengutarakan niatnya.

“Bekti yang sudah berkoordinasi dengan terdakwa untuk mencari pelamar pun langsung mengajukan bisa membantu Bayu. Bekti pun mengaku sebagai saudara kepala dinas kearsipan,” katanya.

Sore harinya, Bekti pun mengantar Bayu ke rumah terdakwa di daerah Cimareme. Setelah menyerahkan berkas, Bayu pun diminta untuk menyediakan uang senilai Rp25 juta. Awalnya Bayu tidak menyanggupinya dan minta dikurangj, namun setelah tahu itu permintaan terdakwa Bayu pun akhirnya menyanggupinya.

Baca juga:  Satgas Saber Pungli Tangkap Pungli E-KTP Dua Pegawai Jadi Tersangka

“Keesokan harinya (Rabu, 11/12/2019) Bayu mendatangi kantor terdakwa dan menyerahkan Rp10 juta sebagai uang muka. Oleh terdakwa Rp3 juta diserahkan kepada Bekti dan sisanya diambil terdakwa,” ujarnya.

Kemudian, Kamis (12/12/2019) Bayu mendatangi ruang kerja terdakwa dan kembali menyerahkan Rp15 juta sebagai pelunasan. Oleh terdakwa uanh sebesar Rp2,2 juta diberikan kepada Bekti dan sisanya Rp12,8 juta dimasukan terdakwa ke saku celananya.

Anggota Polda Jabar yang telah menerima infotmasi soal kegiatam Pungli di Pemkab Bandung Barat, melakukan penangkapan terhadap terdakwa dan Bekti. Uang sejumlah Rp2,2 juta dari Bekti dan Rp12,8 juta dari saku celana terdakwa ikut diamankan.

“Setelah diinterograsi, terdakwa dan Bekti mengaku uang tersebut sisa pembayaran dari Bayu yang melamar sebagai tenaga kerja kontrak,” katanya. (Ahmad Sayuti)

Sumber : inilahkoran.com

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel