Berita

OTT Pungli di Wisata Air Panas Mojokerto Diseret ke Korupsi Berjemaah?

OTT Pungli di Wisata Air Panas Mojokerto Diseret ke Korupsi Berjemaah?
#SaberPungli #StopPungli #IndonesiaBersihPungli #BangSaber #SaberMan

Mojokerto – Satgas Saber Pungli Mojokerto tak kunjung menetapkan tersangka dari hasil OTT di wisata pemandian air panas Padusan, Kecamatan Pacet. Rupanya kasus pungli ini berpotensi diseret ke tindak pidana korupsi secara berjemaah.

Ketua Pokja Yustisi Satgas Saber Pungli Mojokerto Agus Hariono mengatakan, status ketiga penjaga loket wisata pemandian air panas Padusan yang terkena OTT sampai saat ini masih sebagai terlapor. Salah satu penyebabnya, barang bukti uang hasil pungli dinilai sangat minim, yaitu Rp 2.240.000.

Pria yang juga menjabat Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto ini membenarkan pidana pungli tidak melihat nilai uangnya. Hanya, bila perbuatan pungli ini diproses hukum, justru akan merugikan negara.

Karena biaya penyidikan sampai penuntutan yang dikeluarkan negara dinilai tidak sebanding dengan nilai pungli. Terlebih lagi tidak ada pengembalian kerugian negara dari perkara ini.

“Biaya sidang saja Rp 60 juta, ya rugi negara. Belum makannya (para pelaku) di penjara. Tidak ada pengembalian kerugian negaranya. Melihat pungli kami gemas. Tapi harus melihat asas kemanfaatan dari pemidanaan sendiri apa. Membuat efek jera, pemidanaan menjadi langkah terakhir dalam penegakan hukum. Makanya hukuman bisa bermacam-macam,” kata Agus saat dihubungi detikcom, Selasa (24/9/2019).

Oleh sebab itu, lanjut Agus, saat ini pemeriksaan melibatkan Inspektorat Kabupaten Mojokerto, yang menjadi bagian Satgas Saber Pungli. Menurut dia, aparat pengawas internal pemerintah (APIP) itu diminta menghitung kerugian negara akibat pungli yang dilakukan para pelaku.

Karena pungli yang terjadi di wisata pemandian air panas Padusan mengakibatkan kebocoran pendapatan asli daerah (PAD) Pemkab Mojokerto. Uang hasil penjualan tiket wisata yang seharusnya masuk ke kas daerah justru dikeruk oleh Lamat dan kawan-kawan. Pemeriksaan kerugian negara berfokus pada periode selama Lamat bertugas di loket pemandian air panas, yaitu sejak April 2019.

“Diserahkan ke Inspektorat untuk diperiksa kembali ada berapa nilai kerugiannya. Supaya Inspektorat melapor ke Satgas Saber Pungli hasilnya. Baru dinilai pidana, administrasi, atau administrasi yang mengakibatkan kerugian negara,” terangnya.

Jika audit Inspektorat menemukan kerugian negara, kata Agus, kasus pungli ini berpotensi diseret ke pidana korupsi. Namun ada syaratnya. Menurut dia, pemidanaan korupsi tergantung pada besaran kerugian negara atau kualitas subjek hukumnya.

Meski nilai kerugian negara kecil, jika kasus ini nantinya menyeret pejabat di Pemkab Mojokerto, Agus tak segan untuk memprosesnya. Ada atau tidaknya keterlibatan para pejabat bakal diungkap melalui aliran dana hasil pungli. Karena hasil pungli para pelaku di wisata pemandian air panas Padusan diperkirakan mencapai Rp 40 juta setiap bulan.

“Dia (Lamat) bukan pejabat, tapi kan perlu ditelusuri arahnya (aliran dana hasil pungli) ke mana, ke atas, ke samping, semua harus jelas,” ungkapnya.

Ditanya terkait indikasi aliran dana ke para pejabat di Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Mojokerto, Agus belum bisa menjawabnya. “Tergantung pemeriksaan Inspektorat, ada ndak mengarah ke sana,” tandasnya.

Satgas Saber Pungli Mojokerto meringkus tiga petugas loket pemandian air panas Padusan dalam OTT, Sabtu (21/9) sore. Salah satunya Lamat, PNS di Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Mojokerto asal Desa Pandanarum, Kecamatan Pacet. Sementara dua pelaku lainnya adalah Dian Ragil dan Angga, tenaga harian lepas (THL) di Disparpora Kabupaten Mojokerto.

Pungutan liar terjadi di loket pemandian air panas atau loket dalam. Modusnya, para pelaku meminta para pengunjung membayar biaya masuk sesuai tarif yang ditentukan, yaitu Rp 10 ribu untuk pengunjung dewasa, Rp 7.500 untuk anak-anak, dan Rp 35 ribu untuk wisatawan asing.

Namun mereka sengaja tidak memberikan karcis kepada para pengunjung yang telah membayar tiket masuk. Tiket yang disimpan lantas dijual para pelaku kepada pengunjung lainnya dengan harga sesuai tarif yang ditentukan. (fat/fat)

Sumber : detik.com

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel