Berita

Nugroho: Mencegah Pungli Tidak Semudah Membalik Telapak Tangan

Nugroho: Mencegah Pungli Tidak Semudah Membalik Telapak Tangan
#SaberPungli #StopPungli #IndonesiaBersihPungli #BangSaber #SaberMan

JAKARTA – Mencegah pungutan liar di Indonesia butuh kesabaran  berkelanjutan, karena pungli telah “membudaya” dan mengakar di masyarakat. “Masalah pungutan liar tidak dapat diatasi dalam sekejap seperti membalik telapak tangan,” tutur Ketua Kelompok Kerja Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar, Nugroho, kepada tim media Saber Pungli di Jakarta, Senin (14/7).

Menurut Nugroho, pungutan liar banyak dilakukan bermodus pemberian “hadiah” kepada aparat birokrat yang dianggap telah membantu dalam satu urusan. Hadiah yang tergolong gratifikasi ini yang paling sulit ditolak aparat birokrasi, karena  dianggap balas jasa atas layanan yang telah diberikan. Padahal pemberian ini tergolong korupsi.  Si pemberi dan aparat birokrat pemerimanya dapat dipidanakan, jelasnya.

Staf Ahli Penguatan Reformasi Birokrasi Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia itu meilhat banyak celah pada birokrasi dan sistemnya di Indonesia. Celah inilah yang digunakan oleh oknum aparat untuk pungutan liar, ungkapnya.

Pungutan liar  juga dia temui pada sentra-sentra pelayanan publik yang menggunakan biro jasa. Biro jasa  ”menjembatani” publik yang memerlukan pelayanan dengan aparat. Menurut dia, biasanya ada tambahan biaya pengurusannya. “Di sinilah biasanya pungli terjadi,” katanya serius .

Baca juga:  Depok akan Dijadikan Pilot Project Pola Pencegahan Pungli

Pungutan liar, tambahnya,  terjadi di kantor-kantor pelayan publik  dari Pusat hingga daerah. Karena itu, pengungkapan pungutan liar, lanjut Nugoho, jangan hanya di daerah, tetapi juga di kementerian, lembaga, dan pemerintah, di Pusat.

Dalam pengungkapan pungutan liar,  Nugroho menyarankan Satgas perlu bermitra dengan lembaga swadaya  masyarakat yang membidangi pemberantasan pungutan liar. Jumlah  dan mobilitas personel Satgas Saber Pungli terbatas, sedangkan LSM terus memantau dan mengawasi pelayanan publik dalam kegiatan kesehariannya.

“Kerja sama ini perlu untuk mendapatkan data dan informasi dari LSM. Kalau Satgas Saber Pungl bekerja sendiri hasilnya tidak optimal,” jelasnya.

Dia paparkan lebih lanjut, selama ini pencegahan pungutan liar dilakukan melalui  kampanye antipungli di kementerian, lembaga, pemerinah daerah, dan instansi.  Namun,  hasilnya  belum maksimal, karena masih minim publikasi.

Karena  itu, Kelompok Kerja Pencegahan Satgas Saber Pungli akan mengintensifkan  kerja sama dengan media massa. “Harus saya akui peran media massa sangat penting, terutama pada saat ada pandemi  seperti sekarang ini.  Tanpa media massa kampanye antipungl hasilnya kurang optimal,” katanya Nugroho lagi.  * (Tim Media Satgas Saber Pungli)

Baca juga:  Tiket Antrian Paspor Rp.200 Ribu, Saber Pungli dan Kantor Imigrasi Bandung Amankan 3 Terduga Calo

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel