Berita

Curhat Tim Balap Indonesia, Sering Kena Pungli Saat Angkut Motor

Curhat Tim Balap Indonesia, Sering Kena Pungli Saat Angkut Motor
#SaberPungli #StopPungli #IndonesiaBersihPungli #BangSaber #SaberMan

VIVA – Dalam tiga tahun terakhir, dunia balap motor di Indonesia tengah naik daun. Terbukti dengan makin banyaknya pembalap Indonesia yang mentas di ajang internasional.

Tentu, kehadiran mereka di pentas internasional tak terlepas dari sistem pengembangan yang makin terstruktur. Hanya saja, belum semua aspek mendukung sistem pembibitan dunia balap motor.

Pungutan liar masih menjadi momok menakutkan bagi tim-tim balap di Indonesia. Di beberapa kesempatan, mereka sempat diganjal oleh oknum-oknum yang meminta pungli.

Praktik pungli, disebutkan mereka, masih marak terjadi di kawasan Sumatera. Sementara itu, untuk kawasan Jawa mereka sama sekali tak mengalaminya.

“Ada beberapa kali, termasuk saat mau menghadiri Yamaha Cup Race di Medan tahun ini, disetop. Kami harus keluar uang lah,” ujar Manajer Tim Gerry Gendut Racing Team, Umar, kepada VIVA di Sirkuit Pancing, Medan, Minggu 30 Juni 2019.

Menurut Umar, timnya harus menyediakan uang setidaknya Rp1 juta hingga Rp2 juta untuk mengantisipasi praktik pungli yang masih marak ditemukannya saat membalap di beberapa kawasan Sumatera.

Hal senada juga disampaikan oleh Dhaniel Erika, manajer Tim Yamaha Yamalube Suhandi 88 Racing Team. Pria yang akrab disapa Korik itu menyatakan pernah mengalami kejadian tak menyenangkan terkait pungli.

Berbagai alat balapnya sempat ditahan sejumlah oknum hanya demi mendapatkan pungli.

“Kami sebenarnya tak masalah, kan masuk wilayah orang. Ada yang jaga kalau sudah kasih, jadi aman setelah memberikannya (uang). Jika sopan, kami juga mau bekerja sama,” ujar Korik.

Jika dirunut dari rancangan anggaran, pungli sebenarnya tak terlalu besar jumlahnya untuk sebuah tim balap. Hanya saja, sifat pungli bisa merugikan lantaran pengeluaran bisa lebih besar di setiap event.

Bayangkan, untuk membangun satu unit motor balap, menurut Umar, pihaknya butuh uang sebesar Rp70 juta. Di sisi lain, Suhandi 88 Racing Team, dijelaskan Korik, minimal mengeluarkan uang pada kisaran Rp100 juta untuk ikut balapan.

“Mengurus tim balap tidak mudah. Perlu kecermatan dalam urusan rancangan anggaran. Banyak tim balap motor yang kolaps, karena terlalu royal. Nah, saya tak mau itu terjadi dengan tim saya,” terang pemilik Yamaha Yamalube Suhandi 88 Racing Team, Suhandi Angriawan.

Sumber : www.viva.co.id

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel