Berita

AGUNG MAKBUL: BIROKRASI PANJANG DAN MELELAHKAN AKIBATKAN PUNGLI

AGUNG MAKBUL: BIROKRASI PANJANG DAN MELELAHKAN AKIBATKAN PUNGLI
#SaberPungli #StopPungli #IndonesiaBersihPungli #BangSaber #SaberMan

JAKARTA – Budaya pungutan liar (pungli)  yang terbentuk dan berjalan terus-menerus menyebabkan pungli dianggap sebagai hal biasa. Pungli  juga terjadi akibat prosedur pelayanan yang panjang, melelahkan, dan tidak ada kepastian pada sentra pelayanan publik.

Hal itu dinyatakan Sekretaris Satuan Tugas Sapu Bersih Pungli (Satgas Saber Pungli, Irjen Pol. Agung Makbul, pada pencanangan Model Kota Tanpa Pungli di Ternate, Halmahera Barat, Maluku Utara, Kamis (19/11). Ia Juga menyoroti pungli sebagai penyalahgunaan wewenang, jabatan, akibat lemahnya sistem pengawasan oleh atasan.

Untuk memberantas pungli, menurut Agung, prosedur pelayanan harus dipersingat dan disempurnakan. Hal ini dapat ditempuh dengan menerapkan digitalisasi dan layanan online, jelasnya.

Selain itu, ia juga menekankan perlunya dilakukan audit kinerja pada sentra pelayanan publik tersebut. Birokrasi pada sentra layanan itu  harus direformasi, dimonitor, dan dievaluasi, sehingga aparat di dalamnya berintegritas.

Mengingat pungli telah membudaya, Agung Makbul menekankan sentra pelayanan publik tersebut harus diaudit secara khusus atau audit investigatif. Dalam sistem pengawasaannya diterapkan inspeksi medadak oleh unit pemberantasan pungli, inspektorat, atau pengawas terkait lainnya, paparnya.

Baca juga:  Berantas Pungli, Kota Malang Dukung Satgas Saber Pungli

Bila dalam pengawasan  ditemukan adanya praktik pungli, ia menegaskan harus dilakukan tindakan pada aparat yang terlibat. Harus diberikan sanksi, setidaknya hukuman disiplin, katanya lagi.

Selain pembenahan secara internal pada sentra layanan publik di atas, Agung Makbul juga menekankan perlu edukasi masyarakat. Diperlukan kampanye publik agar masyarakat  tidak memberi tips atau persenan pada petugas atau aparat sentra pelayanan publik, katanya menegaskan.  *** (Tim Media Saber Pungli)

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel